10 Negara yang Paling “Kecanduan” Barang China, RI Nomor Berapa?
JAKARTA – (TVTOGEL) Dominasi produk asal Negeri Tirai Bambu di pasar global kian tak terbendung. Berdasarkan data perdagangan internasional terbaru tahun 2026, ketergantungan dunia terhadap manufaktur China mencapai titik tertinggi baru, di mana sebanyak 128 negara kini mengandalkan setidaknya 10% pasokan barangnya dari negara pimpinan Xi Jinping tersebut.
Lantas, negara mana saja yang paling “kecanduan” dan berada di posisi berapakah Indonesia dalam daftar ketergantungan impor ini?
Kamboja di Puncak Daftar
Kamboja tercatat sebagai negara dengan tingkat ketergantungan tertinggi di dunia. Hampir separuh dari total barang yang masuk ke negara tersebut, yakni sebesar 46,8%, berasal dari China. Ketergantungan ini didominasi oleh bahan baku tekstil yang menjadi tulang punggung ekspor Kamboja.
Di posisi kedua dan ketiga diikuti oleh Kirgistan dan Hong Kong, yang masing-masing mencatatkan angka ketergantungan di atas 40%. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya peran China dalam rantai pasok domestik negara-negara tersebut.
Posisi Indonesia: Peringkat ke-9 Global
Indonesia ternyata masuk dalam jajaran 10 besar dunia. Berada di peringkat ke-9, Indonesia tercatat memiliki tingkat ketergantungan impor sebesar 31,4% terhadap China. Artinya, hampir sepertiga barang yang dikonsumsi atau digunakan untuk industri di dalam negeri berasal dari China.
Produk yang paling banyak didatangkan ke tanah air meliputi:
-
Mesin dan Peralatan Listrik: Mendominasi kebutuhan infrastruktur dan manufaktur.
-
Gadget dan Elektronik: Mulai dari ponsel pintar hingga perangkat komputer.
-
Bahan Baku Industri: Terutama zat kimia dan tekstil untuk keperluan produksi lokal.
-
Kendaraan Listrik: Yang pasarnya mulai meledak di Indonesia pada awal 2026 ini.
Daftar 10 Negara Paling Bergantung pada Impor China (2026):
-
Kamboja (46,8%)
-
Kirgistan (45,8%)
-
Hong Kong (40,9%)
-
Mongolia (40,5%)
-
Vietnam (34,0%)
-
Myanmar (33,5%)
-
Ethiopia (32,7%)
-
Paraguay (32,5%)
-
Indonesia (31,4%)
-
Tanzania (30,5%)
Para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa meskipun harga barang China sangat kompetitif, ketergantungan yang terlalu tinggi dapat menimbulkan risiko bagi ketahanan ekonomi nasional jika terjadi gangguan pada rantai pasok global atau ketegangan geopolitik.
